Kelebihan Berat Badan Menjadi Masalah Kesehatan Global

Kelebihan Berat Badan Menjadi Masalah Kesehatan Global

Kelebihan Berat Badan Menjadi Masalah Kesehatan Global

Hivresourcegroup.org – Lebih dari 1/2 orang dewasa yang kelebihan berat badan mengaku dulu dipermalukan oleh dokter, keluarga, dan teman. ‘Fat-shaming’ semacam itu mengakibatkan mereka kerap menyalahkan diri sendiri dan tidak meniti program penurunan berat badan sebagaimana mestinya.Hal selanjutnya ditemukan dalam dua belajar baru yang dipublikasikan terhadap Selasa (1/6). Studi menemukan bahwa di zaman kiwari, ‘fat-shaming’ atau mempermalukan orang dengan kelebihan berat badan jadi persoalan kebugaran global.

Kelebihan Berat Badan Menjadi Masalah Kesehatan Global

“Stigma terkait berat badan begitu lazim dan dapat sangat merugikan. Stigma mengakibatkan seseorang ogah melacak perawatan yang tepat, supaya jadi persoalan kebugaran yang tak terselesaikan,” ujar penulis utama studi, Rebecca Puhl, melansir CNN.Puhl sendiri sudah mempelajari beragam stigma yang terlihat terkait berat badan selama nyaris dua dekade. Ia menciptakan kebiasaan stigma terpaut berat tubuh yang sedemikian itu besar.

“Pada dasarnya, persoalan ini adalah tentang rasa hormat dan martabat dan juga perlakuan yang mirip terhadap orang-orang dengan ukuran dan berat tubuh yang berbeda,” ujar Puhl.Studi pertama yang dipublikasikan dalam International Journal of Obesity menyurvei sekitar 14 ribu anggota Weight Watchers di enam negara layaknya Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat,

Survei dilakukan terhadap Mei-Juli 2020. Para peserta ditanyai tentang pengalaman mereka terkait stigma berat badan dan pengaruhnya terhadap harga diri dan juga kesediaan mereka untuk memperoleh perawatan yang tepat.Hasilnya, ditemukan bahwa anggota keluarga adalah group yang paling jadi malu kecuali tersedia anggotanya yang mengalami kelebihan berat badan. Sebanyak 76-88 % peserta mengaku dulu dihina akibat berat badan berlebih oleh orang tua, saudara kandung, atau anggota keluarga lainnya.

“Ketika kita mengajukan pertanyaan terbuka tentang pengalaman orang-orang tentang stigma berat badan dari anggota keluarga, kerap kali itu [stigma terlihat dalam] kritik yang keras, ejekan, dan olok-olok,” memahami Puhl.Olok-olok berkisar dari penyebutan istilah ‘gemuk’, ‘paha besar’, hingga menyatakan bahwa tak tersedia orang yang bakal tertarik terhadap mereka gara-gara kelebihan berat badan yang dialami. “Komentar ini terlampau pandang remeh dan punya dampak jangka panjang,” kata Puhl.

Baca Juga : Jalan Kaki Bisa Membuat Umur Panjang

Sekitar 22-30 % peserta mengaku mengalami ejekan terkait berat badan pertama kali terhadap usia 10 tahun. Namun, stigma yang diberikan keluarga justru terjadi awet sejalan kala terjadi hingga dewasa.Sementara itu, sebanyak 72-81 % peserta mengaku dulu diejek atau diintimidasi oleh rekan di sekolah. Sebanyak 54-62 % mengaku dulu dipermalukan oleh rekan di daerah kerja. Sebanyak 49-66 % termasuk dulu memperoleh komentar negatif dari teman.

” Banyak orang hadapi stigma berat tubuh dalam beraneka ragam interaksi interpersonal, bagus itu di layanan kesehatan, pekerjaan, sekolah, dan rumah,” kata Puhl.Studi ke dua yang diterbitkan dalam jurnal PLoS One menemukan intimidasi yang mirip yang dilakukan oleh dokter.Studi ke dua ini menemukan sebanyak 63-74 % peserta jadi diremehkan gara-gara berat badan kala mengunjungi dokter. Akhirnya, banyak dari mereka yang mengarah menjauhi menjaga kesehatan.

“Mereka bakal lebih jarang memeriksakan diri ke dokter. Mereka lihat bahwa dokter menilai mereka secara negatif, dan tidak mendengarkan keperluan mereka,” memahami Puhl.Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa stigma berat badan dapat mengakibatkan kenaikan berat badan.Persepsi lazim berpikiran bahwa stigma dapat memotivasi orang untuk tetap turunkan berat badan. Namun, tidak demikianlah terhadap kenyataan yang ditemukan dalam penelitian.”Faktanya, kala orang mengalami stigma berat badan, ini sesungguhnya berkontribusi terhadap tingkah laku makan tidak sehat, aktivitas fisik lebih rendah, hingga berakhir ke menambahkan berat badan,” ujar Puhl.