Penyakit Mukormikosis Rentan Pada penyintas Covid-19

Penyakit Mukormikosis Rentan Pada penyintas Covid-19

Penyakit Mukormikosis Rentan Pada penyintas Covid-19

Hivresourcegroup.org – Penyakit mukormikosis rentan menyerang para penyintas Covid-19. Penyakit ini jadi perhatian didalam sebagian kala terakhir lantaran mewabah di antara para penyintas Covid-19 di India.

Lantas, bagaimana kondisinya di Indonesia?

Dokter spesialis paru, Anna Rozaliyani menjelaskan bahwa sejauh ini pihaknya belum lihat ada peningkatan persoalan mukormikosis di Indonesia.Mukormikosis sendiri merupakan infeksi jamur sistemik langka yang disebabkan oleh jamur golongan Mucormycetes. Jamur ini sanggup menyerang beraneka sistem organ di didalam tubuh.

Penyakit Mukormikosis Rentan Pada penyintas Covid-19

Di Indonesia sendiri, persoalan mukormikosis pernah dilaporkan sebelum saat pandemi Covid-19 melanda. “Jumlahnya tidak banyak, barangkali setahun tidak sampai 50 kasus,” ujar Anna, didalam webinar dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Kamis (3/6).Walaupun jumlahnya sedikit, tetapi penyakit ini terhitung parah dengan nilai kematian yang mencapai 46-96 persen. Jika terlambat ditangani, maka pasien terancam tak sanggup diselamatkan.

Sementara di era pandemi, Anna menjelaskan bahwa pihaknya udah menemukan sebagian persoalan yang diduga mukormikosis. Namun, dugaan itu tak sanggup dibuktikan karena terhalang fasilitas penunjang kontrol yang terbatas.” Sesungguhnya berlega hati pula, betul, informasi perkara[mukormikosis] di Indonesia belum banyak terungkap. Mudah-mudahan ini tak jadi fenomena gunung es,” kata Anna.

Dengan keterbatasan fasilitas ini, ditakutkan pula ada potensi kesalahan diagnosis. “Kapasitas laboratorium kudu ditingkatkan,” ujar Anna.
Hingga kala ini, Anna mengatakan, ada dua laboratorium yang disiapkan sebagai pusat rujukan untuk mendiagnosis mukormikosis. Pertama laboratorium milik FKUI dan laboratorium di RS Persahabatan.

Baca Juga : Kelebihan Berat Badan Menjadi Masalah Kesehatan Global

Diagnosis mukormikosis sendiri tak sanggup dilakukan sembarangan. “Tidak sanggup sekali potret selanjutnya diagnosis, sekali pun ada tanda-tanda klinis yang mendukung,” tegas Anna.Diagnosis kudu ditambah dengan informasi lain. Mulai berasal dari riwayat kesegaran untuk sadar aspek risiko, tanda-tanda klinis yang muncul, kontrol fisik, serta kontrol penunjang seperti kontrol laboratorium jamur.